Apakah Saya Akan Masuk Surga? Memahami Keselamatan dan Jaminan Allah
Pertanyaan “Apakah saya akan masuk surga?” mungkin pernah muncul dalam hati banyak orang. Pertanyaan tersebut sering kali muncul ketika kita memikirkan kematian, kehidupan setelah dunia, dan bagaimana nasib kita di akhirat.
Kehidupan manusia memang penuh dengan perubahan. Ada masa ketika kita menerima kabar yang menggembirakan, tetapi ada pula saat ketika kita harus menghadapi kehilangan.
Beberapa waktu lalu, seorang dokter menyampaikan bahwa saya sedang hamil. Saya dan suami tentu merasa sangat bahagia. Keluarga besar pun menyambut berita tersebut dengan penuh sukacita.
Namun, tidak lama kemudian, kami menerima kabar duka. Salah seorang anggota keluarga meninggal dunia. Perasaan bahagia karena akan menyambut kehidupan baru bercampur dengan kesedihan karena harus kehilangan seseorang yang kami kasihi.
Peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa kelahiran dan kematian merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia. Ada saat seseorang datang ke dunia, dan ada waktunya manusia meninggalkan dunia.
Pada saat itulah pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian kembali muncul:
Apakah saya akan masuk surga?
Kita tentu ingin mengetahui bagaimana keadaan kita setelah meninggal. Apakah ada kepastian mengenai kehidupan kekal? Apa yang harus dilakukan manusia agar memperoleh keselamatan?
Mari melihat bagaimana persoalan ini dijelaskan dalam ajaran agama.
Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ada Harapan Keselamatan
Ajaran agama memberikan petunjuk mengenai kehidupan yang berkenan kepada Allah. Manusia diajarkan untuk beriman dan melakukan amal yang baik.
Al-Qur'an menyatakan:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”
(Qs 18:107)
Selain iman dan amal saleh, pertobatan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Allah disebut sebagai Pribadi yang mengampuni dosa orang yang bertobat.
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(Qs 39:53)
Ayat tersebut memberikan harapan bahwa manusia masih dapat memperoleh pengampunan Allah.
Namun, ketika seseorang bertanya, “Apakah saya akan masuk surga?”, persoalannya tidak sesederhana itu. Ada berbagai hal yang berkaitan dengan dosa, pengampunan, pertobatan, dan keputusan Allah mengenai kehidupan manusia.
Apakah Saya Pasti Masuk Surga? Persoalan yang Tidak Sederhana
Manusia tidak mengetahui seluruh keputusan Allah mengenai kehidupan akhirat. Pada akhirnya, Allah yang memiliki kuasa untuk menentukan nasib manusia.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan demikian pula seseorang dapat berada dalam kesesatan sesuai kehendak-Nya.
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(Qs 14:4)
Karena itu, keputusan akhir mengenai kehidupan setelah kematian bukan sesuatu yang dapat dipastikan manusia hanya berdasarkan pengetahuannya sendiri.
Al-Qur'an juga menyatakan:
“. . . sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Qs 5:40)
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan surga dan pengampunan berada dalam kekuasaan Allah.
Dosa Manusia Menjadi Persoalan Penting
Ada persoalan lain yang tidak dapat diabaikan, yaitu dosa.
Manusia dapat berusaha menjalani kehidupan yang baik. Kita dapat beribadah, melakukan amal kebajikan, meminta ampun, dan berusaha menjauhi berbagai kesalahan.
Namun, apakah manusia benar-benar dapat menjalani seluruh hidupnya tanpa dosa?
Bayangkan seseorang mengenakan pakaian putih bersih sejak pagi. Pakaian tersebut dapat menggambarkan keadaan hati manusia.
Sepanjang hari, orang tersebut melakukan berbagai aktivitas di dunia. Ia berjalan melewati jalan yang berdebu, berada di tengah polusi, menyentuh berbagai benda, dan mungkin terkena tanah atau kotoran.
Pada malam hari, apakah pakaian tersebut masih benar-benar putih tanpa satu pun noda?
Kemungkinan besar tidak.
Demikian pula kehidupan manusia. Sekalipun seseorang berusaha melakukan yang terbaik, manusia tetap dapat melakukan kesalahan.
Persoalannya, Allah adalah Mahasuci. Dosa tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang sepele di hadapan-Nya.
Karena itu, manusia membutuhkan pengampunan Allah, bukan sekadar mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.
Bahkan mengenai kehidupan manusia dan perkara akhir zaman, Nabi Islam sendiri menyatakan keterbatasannya:
“. . . sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan . . . Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan . . .”
(Qs 7:187-188)
Apakah Ada Jaminan Masuk Surga?
Saya pernah berbicara dengan seorang teman mengenai persoalan ini. Ia pernah mendengar penjelasan seorang ustadzah bahwa pengikut Nabi Islam akan masuk surga dan memiliki jaminan keselamatan.
Awalnya ia merasa lega. Informasi tersebut membuatnya merasa lebih tenang ketika memikirkan kehidupan setelah kematian.
Tetapi kemudian ia mendengar penjelasan dari ulama dan ustadz lainnya yang memberikan pandangan berbeda.
Persoalan dosa kembali menjadi salah satu alasan utama.
Manusia memang dapat berusaha menjalankan kewajiban agama. Namun, selama hidup di dunia, manusia tetap dapat melakukan kesalahan.
Karena itu, teman saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia sebaiknya tidak menganggap surga sebagai sesuatu yang dapat diklaim dengan kemampuan sendiri.
Manusia dapat berusaha untuk bertobat, beribadah, dan melakukan kebaikan. Namun pada akhirnya, manusia tetap membutuhkan rahmat dan pengampunan Allah.
Surga kemudian dipandang sebagai harapan manusia mengenai kehidupan akhirat.
Saya Memiliki Kepastian Keselamatan
Pada bagian ini saya memiliki pandangan yang berbeda.
Ketika seseorang bertanya kepada saya, “Apakah kamu akan masuk surga?”, saya dapat memberikan jawaban dengan penuh keyakinan:
“Ya, saya yakin akan masuk surga.”
Teman saya kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar.
Bagaimana dengan dosa?
Bagaimana seseorang bisa memiliki kepastian keselamatan?
Apakah memperoleh surga berarti persoalannya menjadi terlalu mudah?
Saya menjelaskan bahwa saya juga mengakui manusia adalah makhluk yang berdosa. Karena itu, manusia tidak dapat mengandalkan amalnya sendiri untuk memperoleh keselamatan.
Jika keselamatan sepenuhnya bergantung pada kemampuan manusia melakukan amal, manusia akan terus menghadapi pertanyaan apakah amalnya sudah cukup untuk menghapus seluruh dosa.
Menurut keyakinan yang saya anut, jalan keluar tersebut berasal dari Allah sendiri.
Isa Al-Masih sebagai Jalan Pengampunan Dosa
Saya percaya bahwa Allah menyediakan jalan keselamatan melalui Isa Al-Masih.
Dalam keyakinan ini, Isa Al-Masih dipahami sebagai perwujudan Kalimatullah.
Injil Yahya menyatakan:
“. . . Kalam itu [Isa Al-Masih] bersama Allah, dan Kalam itu adalah Allah . . . penuh dengan anugerah dan kebenaran . . . Dari kelimpahan-Nya, kita semua sudah menerima anugerah demi anugerah [rahmat-Nya].”
(Injil, Yahya 1:14,16)
Melalui Isa Al-Masih, manusia memperoleh pengampunan dosa. Karena itu, keselamatan bukan dipahami sebagai hasil kemampuan manusia mengumpulkan amal yang cukup, tetapi sebagai anugerah Allah.
Dalam keyakinan tersebut, hubungan manusia dengan Allah dipulihkan melalui Isa Al-Masih.
Jaminan Kehidupan Kekal dari Allah
Jika manusia tidak mampu mengetahui sendiri apakah dirinya akan memperoleh kehidupan kekal, dari mana kepastian itu dapat diperoleh?
Jawabannya, menurut iman Kristen, adalah dari janji Allah.
Jika manusia yang membuat janji, kita mungkin masih memiliki alasan untuk meragukannya. Namun apabila Allah sendiri yang memberikan janji keselamatan, orang percaya dapat menaruh iman kepada janji tersebut.
Isa Al-Masih berkata:
“. . . orang yang mendengarkan perkataan-Ku [Isa Al-Masih] serta percaya kepada Dia yang mengutus Aku memperoleh hidup yang kekal dan tidak akan dihukum. Ia sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup.”
(Injil, Yahya 5:24)
Dengan demikian, keyakinan mengenai keselamatan bukan berarti menganggap surga sebagai sesuatu yang murah atau tidak berharga.
Sebaliknya, keselamatan dipandang sebagai sesuatu yang sangat berharga dan tidak dapat diperoleh manusia dengan kekuatannya sendiri.
Manusia membutuhkan pertolongan Allah.
Allah yang mengampuni dosa juga mengubah kehidupan manusia. Orang yang menerima keselamatan kemudian terdorong untuk menjalani kehidupan yang benar, beribadah, dan melakukan kebaikan sebagai ungkapan syukur atas anugerah Allah.
Injil juga menyatakan:
“Melalui Isa Al-Masih, Allah memberikan pengampunan dosa. Setiap orang yang mengimani-Nya dibebaskan dari segala dosa. Hal ini tidak mungkin tercapai dari berusaha memenuhi seluruh perintah Allah.”
(Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, BIS parafrasa)
Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ya, Melalui Isa Al-Masih
Ketakutan terhadap kematian dan kehidupan setelah dunia merupakan sesuatu yang dapat dirasakan manusia. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi setelah kematian.
Pertanyaan “Apakah saya akan masuk surga?” muncul karena manusia ingin mengetahui nasibnya di kehidupan kekal.
Menurut iman Kristen yang dijelaskan di atas, Allah memberikan jawaban melalui keselamatan dalam Isa Al-Masih.
Allah menawarkan pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Orang yang percaya kepada Isa Al-Masih memperoleh dasar untuk memiliki keyakinan mengenai keselamatan.
Karena itu, keselamatan bukan semata-mata tentang seberapa banyak amal yang mampu dilakukan manusia. Keselamatan juga berkaitan dengan anugerah, pengampunan, iman, dan hubungan manusia dengan Allah.
Bagi saya, inilah alasan saya dapat menjawab pertanyaan “Apakah saya akan masuk surga?” dengan keyakinan:
Ya, saya percaya saya akan masuk surga melalui Isa Al-Masih.
Maukah Anda menerima pengampunan dosa dan memiliki pengharapan akan kehidupan kekal?
Mari mempertimbangkan ajaran Isa Al-Masih dan memahami lebih dalam tentang keselamatan yang ditawarkan Allah.
