Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

Selasa, 19 Juni 2012

Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?


Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? - Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? Update Lagi Nih Sobat SLIMers Tentang Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?. Untuk Sahabat SLIMers Yang sedang Mencari Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?, Mungkin Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? Ini bermanfaat Buat Anda. Monggo Dilihat Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? di bawah Ini Agar Lebih Jelas Tau Tentang Agama Yang Anda Anut.



 
Sejarah Islam sudah berumur 14 abad lebih, dengannya sangat wajar banyak distorsi di mana-mana, atau menjadi bola salju yang terus bertambah dan bertambah sehingga diyakini sebagai fakta sejarah dan diyakini sebagai suatu kebenaran. Padahal belum tentu. Salah satunya adalah doktrin mengenai Nabi adalah Ummiy (buta huruf, tidak bisa baca-tulis). Doktrin ini diyakini oleh mayoritas umat Islam, celakanya lagi umat Islam enggan untyuk mengkajinya lebih dalam dengan meneliti sejarah dan ayat suci Al-Qur’an sebagai pedoman yang paling utama.
Karena itu, bukanlah suatu keanehan kalau umat Islam justru mengalami evolusi regresif, yakni berkembang ke arah keburukan, bukannya evolusi progresif, yakni makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu. Ironisnya lagi, kebutahurufan nabi seakan menjadi kenyataan yang patut dibanggakan dan bisa membangun kepercayaan diri umat Islam.
Sebagai contoh, putra-putri kita ajari membaca dan menulis dan pada saat yang sama kita suguhkan cerita tentang nabi yang tidak tahu membaca dan menulis. Kebutahurufan Nabi Muhammad sepertinya sengaja dibangun untuk mengetengahkan sebuah argumen tentang betapa hebatnya mukjizat Alquran yang bersumber dari sesuatu yang Ilahi. Dengan teori “nabi yang buta huruf”, mukjizat terkesan semakin mencengangkan. Celakanya lagi, kebutahurufan dijadikan dalil untuk keabsahan risalah kenabian Nabi Muhammad, sesuatu yang tidak menjadi syarat keabsahan nabi-nabi sebelumnya.
Pertanyaannya, benarkah ajaran itu? Atas dasar apa nabi dianggap sebagai sosok yang buta huruf? Apakah ia pernah menyatakan dirinya betul-betul tidak mampu membaca dan menulis sejak kecil hingga akhir hayatnya? Lalu, jika ada anggapan ia mampu membaca dan menulis, apakah itu akan mengurangi keabsahannya sebagai utusan Allah?
Makna Ummi
Oleh beberapa yang disebut ulama Islam sejak dahulu, makna perkataan ummi dalam beberapa surah Alquran, misalnya Surah Al-A’raf 157 “nabi yang ummi” diartikan buta huruf, tidak pandai membaca dan menulis. Dan ajaran mereka diterima tanpa ragu oleh hampir seluruh umat Islam sejak dari zaman dahulu hingga ke hari ini. Bahkan oleh ulama-ulama kemudian berusaha membenarkan dan mempertahankan mitos ini, termasuk yang dilakukan Prof Achmad Ali, yang sesungguhnya sejak awal telah menjadi polemik dalam diri beliau, karena sesungguhnya bagi siapapun, pendapat bahwa Nabi Muhammad buta huruf, tidak tahu membaca dan menulis adalah suatu kenyataan menyakitkan dan sangat sulit diterima. Demi jiwaku! Mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini akan jauh dari Islam sejauh dua kutub barat dan timur. Dia wajib merujuk kembali akalnya atau mengusir setan dari hatinya. Allah berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya; dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al- Jathiya: 23)
Ayat pertama yang turun adalah QS al-’Alaq atau biasa juga disebut dengan surat Iqra. Diawali dengan kata iqra (bacalah), “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Allah SWT telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al-‘Alaq: 1-2). Ayat selanjutnya adalah: “Dialah yang telah mengajarkan dengan Qalam. Mengajarkan manusia dari apa yang belum diketahui.” (QS. Al-‘Alaq: 4-5).
Dari ayat-ayat tersebut, kata kunci pertama al-Qur’an adalah Ilmu Pengetahuan: membaca adalah jendela ilmu, membuka kesadaran terhadap pentingnya ilmu. Ayat-ayat selanjutnya adalah menerangkan tentang proses penciptaan manusia. Pada ayat selanjutnya adalah menulis (qalam) adalah juga menjadi kata kunci utama. Al-Qur’an dengannya mengatakan bahwa kewajiban pertama umat Islam adalah bahwa umat Islam harus pintar, harus menguasai ilmu pengetahuan. Harus membaca dan menulis, sebagaimana manusia yang diberikan akal dan fikiran. Bahkan dalam banyak ayat Allah mensifatkan manusia yang tidak mau berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina dari pada binatang; “Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi Allah, ialah orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mahu memahami sesuatupun dengan akal fikirannya(Qs. Al-Anfaal: 22)” dan dalam banyak ayat Al-Qur’an mengatakan ; “Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran?”,” Apakah kamu tidak berfikir?”, “Apakah kamu tidak melihat ?”, “apakah kamu tidak ingat?”, “apakah kamu tidak memahami?”.
Tidak ada larangan untuk meninjau kembali pandangan tersebut, apalagi itu hanyalah pendapat beberapa ulama. Pendapat ulama bukanlah sesuatu yang sakral. Kita bisa membandingkannya dengan pandangan Alquran dalam hal ini ayat-ayat Alquran yang mengandung kalimat “ummi” yang akan membuktikan bahwa pandangan Nabi Muhammad buta huruf bukan saja tidak sesuai kenyataan, tetapi juga berbau fitnah yang amat besar dalam Islam. Antara lain ayat yang dimaksudkan berbunyi; “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang “ummi” dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, meskipun sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al-Jumuah: 2).
Kaum yang “ummi” yang disebut dalam ayat tersebut adalah kaum Arab. Orang-orang Arab pada zaman Nabi Muhammad diceritakan dalam buku sejarah, berada pada tahap tinggi dalam kesusasteraan dengan karya-karya sastera yang berkualitas dipamer dan ditempelkan di dinding Kakbah. Tentu itu tidak menggambarkan orang Arab jahiliah ketika itu berada dalam keadaan buta huruf. Mereka dikatakan jahiliah hanya dalam persoalan aqidah dan kepercayaan, bukan dalam pelbagai bidang lain.
Kata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Kaum Yahudi telah diberi tiga buah kitab melalui beberapa orang nabi mereka. Karenanya, mereka di sebut ahli kitab. Sedangkan orang-orang Arab, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang orang Arab. Hal ini dijelaskan-Nya dalam Firman-Nya: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang tidak diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).
Maka jelaslah, tidak seluruhnya kata “ummi” itu bermakna buta huruf. Lantas, apakah Rasulullah buta huruf? Alquran membantah pendapat ini secara terang-terangan dan berkali-kali. Banyak ayat di dalam Alquran yang mengisahkan nabi diperintahkan supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.
Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu….” (Qs. 6: 151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (Qs. 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (Qs. 62:2). Baca juga dalam Qs. 5:27, Qs. 17:106, 27:91-92, Qs. 33:33-34, Qs. 39:71.
Tambahan pula, sulit menerima hakikat bahwa seorang Nabi pilihan-Nya tidak tahu membaca padahal ayat yang diturunkan pertama kali adalah perintah membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (Qs. 96:1). Ayat Alquran yang pertama sudah menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca (kalau beliau dianggap buta-huruf). Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.
Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”, atau orang-orang yang tidak diberi kitab. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.
Alquran tidak hanya menjelaskan nabi pandai membaca, tetapi pandai menulis. Dalam
Alquran dijelaskan orang-orang kafir menuduh Rasul menulis dongeng-dongeng orang terdahulu dan disebutnya firman-firman Tuhan: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al-Furqan : 5).
Dan terakhir, terdapat sebuah ayat lagi yang insya Allah dapat menepis sama sekali keraguan terhadap Nabi yang dikatakan tidak pandai membaca dan menulis. Firman-Nya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48).
Ayat ini menegaskan, Nabi tidak pernah membaca dan menulis satupun Kitab sebelum menerima Alquran. Maksudnya, setelah menerima Alquran, Rasul membaca dan menulis Kitab dengan tangan kanannya. Ayat ini pun menunjukkan, dengan tidak pernahnya Rasullullah membaca atau menulis satu kitab pun semisal Alquran, bukan berarti Rasulullah tidak tahu membaca dan menulis. Misalnya membaca dan menulis dalam urusan perdagangannya. Nabi adalah seorang pedagang yang terkenal. Dan para ahli sejarah sepakat, pada zaman Nabi tidak menggunakan angka-angka; huruf huruf abjad telah digunakan sebagai angka-angka. Sebagai seorang pedagang yang berurusan dengan nomor-nomor atau angka-angka setiap hari, Nabi tentunya tahu tentang abjad, dari satu sampai keseribu. Karenanya, tidak ada dalih yang kuat apalagi untuk mempertahankan pendapat Nabi Muhammad buta huruf.
Fakta lain, Abu Thalib paman Nabi adalah orang yang sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka, contoh Ali bin Abi Thalib yang dijuluki gudang ilmu, dari sini saja dapat kita pahami bahwa keluarga Nabi Muhammad sangat peduli terhadap pendidikan. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abd’l-Muttalib (Kakek Nabi) juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya, lalu pertanyaan yang timbul adalah apakah orang yang disayangnya akan dibiarkan dalam kebodohan dan buta huruf? Tentu jawabnya adalah tidak, kalau Abu Thalib menyayangi Ali dan menyuruhnya belajar membaca dan menulsi, tentu perlakukan Abu Thalib kepada Nabi juga sama.
Anggapan Nabi seorang Ummi tidaklah benar, hal ini mungkin bantahan dari orang yang setuju kalau Nabi Ummi/ buta baca/tulis. Namun pihak lain, yang tidak yakin bahwa Nabi Muhamad but abaca tulis akan berpendapat mana mungkin Nabi Muhammad buta baca tulis, sedangkan perintah pertama wahyu Allah adalah perintah membaca dan menuliskannya, jadi mustahil kalau Nabi Muhammad buta baca tulis, apakah mungkin seorang Nabi menyuruh umatnya membaca Al-quran sedangkan Nabi sendiri tidak mampu membaca, apa mungkin seoarang Nabi menyuruh umatnya belajar dan menuntut ilmu, menyuruh para tawanan perang untuk mengajarkan kepada umat pada waktu itu agar mampu membaca dan menulis, sedangkan Nabi Muhammad sendiri tidak mampu membaca dan menulis, sesuatu yang mustahil dan paradok dengan hadist Nabi “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”. Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah, dinamakan uswatun hasanah karena sebelum memerintahkan kepada umatnya Nabi Muhammad terlebih dahulu melaksanakannya, jadi tidak mungkin Nabi menyuruh orang untuk belajar membaca dan menulis sedangkan Nabi tidak mengerjakan terlebih dahulu/ tidak mengamalkannya.
Bila ada keraguan dengan kemurnian Wahyu Tuhan dengan dalih bahwa ada kemungkinan Al-Quran adalah buatan Nabi Muhammad, maka cukup di jawab dengan salah satu ayat yang mengatakan kema’suman Rosulullah, FirmanNYA: “Dan, tidaklah dia (Nabi Muhammad) itu berbicara dengan hawa nafsu, tetapi apa yang dikatakannya adalah berdasarkan pada wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Qs. an-Najm: 3).
Apa pun yang membantu kita memberikan makna –pendapat, aliran pemikiran, mazhab, agama- selalu didasarkan pada cerita-cerita besar, grand narratives. Cerita yang kita dapat tentang Nabi buta huruf yang wajib diteladani akan berpengaruh terhadap bagaimana kita menjalani dan melakukan pengorganisasian hidup.
Dr Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitab wal Quran saya tidak mau menerima cerita tentang Nabi Muhammad SAWW buta hurufi, Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis. Kalau keraguan masih ada, izinkan saya meminta untuk kembali membaca, surat pertama Tuhan kepada kekasih-Nya, “Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan….!”



Terima kasih telah membaca Artikel Tentang Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? . Jika Anda ingin Copy Paste Artikel ini, Harap cantumkan Link Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf? sebagai sumbernya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright @ 2010 - 2013 جمع من الإلهام والحافز الإسلامي.

Designed by Admin | Publisher